Showing posts with label Dunia Kehidupan [Cerpen]. Show all posts
Showing posts with label Dunia Kehidupan [Cerpen]. Show all posts

Iman

Seorang pelancong berdiri sangat dekat di pinggir Grand Canyon sehingga akhirnya dia kehilangan tempat berpijak dan terperosok jatuh. Dia berusaha mencari-cari pegangan untuk menyelamatkan dirinya. Akhirnya dia dapat memegang semak kecil. Karena ketakutan, dia berteriak, “Ada orang di atas? Tolong saya!” Dia mendengar suara yang meyakinkan, “Saya di sini, Tuhan Allahmu.” Pelancong itu berkata, “Saya senang bila Engkau ada di sini. Saya tidak dapat berpegang pada ranting ini lebih lama.” Tuhan mengatakan, “Sebelum saya menolongmu, saya ingin tahu apakah engkau sungguh-sungguh percaya kepada-Ku.” Orang itu menjawab, “Tuhan, saya tentu percaya kepada-Mu. Saya selalu pergi ke rumah ibadat untuk beribadat, dan saya rajin membaca kitab suci, berdoa setiap hari, dan bahkan memasukkan beberapa dollar ke dalam tempat persembahan”. Tuhan menjawab, “Apakah engkau percaya kepada-Ku?” Pelancong itu semakin putus asa dan mengatakan, “Tuhan, engkau tidak dapat percaya betapa besarnya kepercayaanku pada-Mu. Saya sungguh percaya!” Lalu Tuhan mengatakan kepadanya, “Baik. Sekarang lepaskan peganganmu itu.” Pelancong itu dengan menggagap berkata, “Tetapi, Tuhan …” Dan, suara Tuhan terdengar lagi, “Jika engkau percaya kepada-Ku, lepaskan peganganmu pada ranting itu.” Pelancong itu diam sejenak dan kemudian berteriak lagi, “Apakah ada orang di atas sana?”
(Paul J. Wharton)

Read More...

Kupu-Kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul dari kepompong. Orang itu duduk dan mengamati selama beberapa jam bagaimana si kupu-kupu itu berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Ternyata, kupu-kupu itu mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, dan sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar, sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang dalam waktu. Ternyata semuanya tak pernah terjadi. Kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tak pernah bisa terbang. Kebaikan dan ketergesaan orang tersebut merupakan akibat dari ketidakmengertian bahwa kepompong yang menghambat, dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuhkupu-kupu itu berpindah ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga sayapnya menjadi kuat, dan siap terbang begitu memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita tidak pernah bisa “terbang”.

Kita mohon kekuatan … dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita kuat.
Kita mohon kebijaksanaan … dan Tuhan memberi kita persoalan untuk diselesaikan.
Kita mohon kemakmuran … dan Tuhan memberi kita otak dan tenaga untuk bekerja.
Kita memohon keteguhan hati … dan Tuhan memberi kita bahaya untuk diatasi.
Kita memohon cinta dan kasih sayang … dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Kita memohon kemurahan dan kebaikan hati … dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan dan tantangan untuk diatasi.
Kita tidak memperoleh yang kita inginkan … tetapi … kita mendapatkan segala yang kita butuhkan.
Itulah kemahabaikan Tuhan bagi kita, yang sering tidak kita mengerti.

Read More...

Ikan Dalam Air

Ikan-ikan di dalam sebuah kolam berunding bersama-sama dan berkata satu kepada yang lain: “Orang mengatakan bahwa hidup kita tergantung pada air. Tetapi kita sendiri belum pernah melihat air. Kita sendiri tidak tahu apa itu air.” Beberapa yang lain, yang lebih pintar mengatakan, “Kami mendengar bahwa di dalam laut hidup seekor ikan yang terpelajar, yang mengetahui semua hal. Kita ingin berpindah ke tempatnya dan meminta dia menunjukkan kepada kita air itu.”
Maka berangkatlah beberapa ekor ikan dan tibalah mereka di laut, lalu menemui ikan itu untuk menyampaikan hasil perundingan mereka. Setelah mendengar pembicaraan mereka, dia mengatakan, “Kamu adalah ikan yang bodoh. Kalian hidup dan bergerak di dalam air! Kalian datang dari air, dan kalian harus kembali ke dalam air! Kalian hidup dari air dan kalian tidak tahu!”

Read More...

Jalan Raya Raja

Pada suatu jaman hiduplah seorang Raja yang membangun sebuah jalan raya untuk seluruh penduduk kerajaannya. Setelah pembangunan jalan raya itu selesai dan sebelum jalan raya itu dibuka untuk umum, sang Raja mengadakan sebuah sayembara. Ia men undang semua orang untuk turut serta. Lombanya cukup sederhana, pemenangnya adalah mereka yang melakukan perjalanan yang terbaik.
Pada hari yang ditentukan semua orang berduyun-duyun. Ada yang mengendarai kereta kencana yang mewah. Ada yang men genakan pakaian kebesaran, tata rias rambut yang indah. Ada pula yang membawa perbekalan makanan yang lezat. Beberapa anak muda mengenakan pakaian olahraga dan berlari sepanjang jalan. Semua peserta berjalan sepanjang hari, namun ketika satu per satu tiba di garis finish, mereka mengeluh pada Raja bahwa terdapat sebuah batu besar dan puing-puing reruntuhan di sebuah sudut jalan yang menghalangi perjalanan mereka. Hingga pada petang harinya, seorang peserta terakhir tiba seorang diri. Ia tampak lelah dan kotor. Ia berjalan menuju sang Raja dan memberikan salam hormat. Setelah itu ia menyerahkan sekantung emas kepada sang Raja.
Katanya, “Maaf, paduka. Hamba tiba terlambat karena hamba harus menyingkirkan sebongkah batu besar dan reruntuhan yang menghalangi jalan. Dan ketika hamba mengangkat batu itu, hamba men emukan sekantung emas ini tertimbun di bawahnya. Hamba tidak tahu milik siapakah emas ini. Karena itu, hamba mohon paduka mengembalikannya pada pemiliknya semula.” Sang Raja menjawab, “Kau adalah pemilik sekantung emas itu.” Pejalan itu menyahut, “Oh tidak paduka. Ini bukan milik hamba. Hamba tidak pernah memiliki harta sekian banyak.” “Oh tentu saja,” kata sang Raja. “Kau berhak memiliki emas ini, karena engkau telah memenangkan perlombaan ini. Pemenang lomba ini adalah mereka yang bisa melakukan perjalanan yang terbaik; yaitu mereka yang bisa membuat jalan itu menjadi baik agar mudah dilalui oleh orang lain”.

Read More...

Satu Gelas Susu

Suatu hari, seorang bocah miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit sekali uang. Anak itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, saat seorang gadis muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya.

Akhirnya, ia hanya meminta segelas air putih untuk menawarkan dahaga. Gadis muda itu berpikir, pastilah anak ini merasa lapar, maka dibawakannyalah segelas besar susu untuk anak tersebut. Ia meminumnya perlahan, kemudian bertanya, “Berapa saya berhutang kepada anda?”. “Kamu tidak berhutang apa pun kepada saya,” jawabnya. “Ibuku men gajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang kami lakukan”. Anak itu menjawab, “Kalau begitu, saya hanya bisa men gucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam.” Saat Howard Kelly, anak kecil yang miskin itu, meninggalkan rumah tersebut, dia bukan hanya merasa badannya lebih segar, tetapi keyakinannya pada Tuhan dan sesama manusia menjadi lebih kuat. Sebelumnya dia sudah merasa putus asa dan hampir menyerah.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari wanita muda tersebut men galami sakit parah. Dokter yang menanganinya merasa bin gung dan akhirnya men girim wanita itu ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan spesialis. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk berkonsultasi. Ketika ia mendengar nama kota tempat asal si pasien, ia segera pergi ke kamar tempat di mana wanita tersebut dirawat. Ia langsung men genali dan memutuskan untuk melakukan hal terbaik yang bisa ia usahakan untuk menolongnya.

Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus pada kasus ini. Setelah melewati perjuangan panjang, peperangan pun dapat dimenangkan. Dr. Kelly dipanggil oleh pihak administrasi untuk menandatangani biaya yang harus dibayarkan oleh si wanita kepadanya. Ia melihat kuitansi tersebut, dan kemudian menuliskan sesuatu. Kuitansi tersebut lalu dikirim ke kamar perawatan si wanita itu. Wanita tersebut merasa takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin bahwa ia tidak akan mampu membayarnya. Akhirnya den gan menguatkan hati, ia melihat ke kuitansi tersebut. Sebuah tulisan pada kuitansi tersebut telah menarik perhatiannya. Ia membaca tulisan itu: “Telah Dibayar Penuh Den gan Satu Gelas Susu”. Tertanda, Dr. Howard Kelly. Air mata mengalir dari matanya saat hatinya yang bahagia mengucapkan doa dan pujian:”Terima kasih Tuhan, kasihMu telah memancar melalui hati dan tangan manusia”.

Read More...